Berkaca pada Waktu

Seorang pemuda memutuskan untuk mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan sekolahnya ke perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang tidak umum, dan menjadi tampak mencolok jika dibandingkan dengan arus utama remaja yang “sewajarnya” langsung melanjutkan perkuliahan selepas lulus SMA.

Waktu

“Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”

Tidak Ajeg

Merasa tidak ajeg, tidak mantap, atau sebutan populernya tidak firm, sangat tidak enak. Lebih tidak enak kalau profesi yang dijalani merupakan figur yang diharapkan masyarakat sebagai orang yang berprinsip, tegas, berani, dan dijadikan acuan atau sumber ilmu.

Menjangkau

Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional.