Seorang pemuda memutuskan untuk mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan sekolahnya ke perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang tidak umum, dan menjadi tampak mencolok jika dibandingkan dengan arus utama remaja yang “sewajarnya” langsung melanjutkan perkuliahan selepas lulus SMA. Bukan sebuah keputusan yang mudah untuk ditanggungnya, sebab banyak orang mengasihani dirinya yang tidak langsung berkuliah. Bentuk kasihan yang ia terima berkisar antara mencemaskan masa depannya atau menyalahkan masa lalunya. Namun, ia memilih untuk mengasihi dirinya secara konkrit.

Ia paham benar bahwa semasa sekolah, ia tidak sungguh-sungguh belajar secara akademis. Kegiatannya lebih banyak bermain dan berorganisasi, menghabiskan waktu bersenang-senang tanpa harus terlalu memusingkan masa depan. Tibalah di penghujung SMA, ia akui, bahwa ia menyesal karena masih belum tahu akan menjadi apa dan jalan apa yang harus ia tapaki kemudian. Sementara teman-temannya sudah mengirimkan aplikasi ke berbagai universitas, sudah tahu jurusan yang mau ditekuni, dan menyiapkan mental untuk ujian-ujian berikutnya. Beberapa yang “senasib” dengannya, pasrah saja untuk cap-cip-cup dalam mengisi formulir pendaftaran kuliah: jurusan apa saja yang penting kuliah.

Ia memilih untuk tidak gegabah. Berhenti sejenak sambil bersiap menemukan beberapa petunjuk tentang dirinya. Pertanyaan seputar: apa cita-citaku? bidang apa yang paling memantik rasa ingin tahuku? bagaimana caranya mengejar pengetahuan-pengetahuan dasar yang dulu hanya sekadar mampir untuk nilai rapor? dan, keterampilan apa yang saja yang aku punya selama ini?

Tidak mudah untuk berkomitmen dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kadang ada rasa malas, bosan, dan putus asa, tetapi dengan sedikit pendampingan, ia bisa hadapi dengan gagah berani. Kini, enam bulan sejak ia memutuskan gap year, apa yang ia dapatkan? Paling tidak ada dua hal.

Pertama, ia menemukan ritme baru dalam hariannya dan mulai terampil memegang kendali. Ia tahu kapan harus belajar, kapan harus bersantai, dan kapan harus bersenang-senang. Memiliki rutinitas dan pengelolaan waktu yang sesuai dan pas dengan caranya.

Kedua, ia mampu menyusun gambaran kasar tentang peta karir yang sesuai dengan kemampuan, kesukaan, beberapa daftar target pencapaian, serta seberapa besar motivasi yang ia miliki untuk serius bertanggung jawab menjalani perkuliahan.

Teman seusianya memang banyak yang sudah menggunakan jaket almamater dan berstatus mahasiswa. Namun, apa yang ia miliki saat ini jauh lebih mendasar. Ia tidak harus berlindung di balik jaket dan status mahasiswa untuk dinilai keren. Ia sedang bertransformasi menjadi pribadi yang lebih mahir mengenali dirinya.