
Emosi, atau yang lebih dikenal dengan nama “perasaan” adalah salah satu komponen yang menyusun manusia. Fungsinya adalah untuk membantu manusia bertahan hidup. Ambil contoh sederhana, kita merasa takut saat ada anjing galak dan pikiran kita memberikan perintah untuk cari jalan lain. Perasaan membantu kita agar kita tidak mati dengan bodoh, walaupun bertemu anjing galak belum tentu membuat kita mati saat itu juga. Juga, perasaan suka dan tertarik terhadap manusia lain, yang didorong oleh kebutuhan reproduksi dan berkembang biak.
Dalam proses evolusi, perasaan yang bisa dirasakan dan dinamakan oleh manusia kemudian berkembang. Saat kita berkembang dari bayi hingga dewasa, pengetahuan kita tentang emosi menjadi semakin kompleks. Ya, bertahan hidup dalam keseharian adalah proses yang kompleks –kalau tidak mau dibilang sulit. Kita akan menghadapi kesulitan dan masalah, entah itu masalah dengan diri sendiri atau dengan lingkungan. Pengenalan emosi perlu menjadi perhatian, yang sayangnya seringkali luput dan diabaikan. Menarik untuk diketahui bagaimana emosi berkembang dalam satu siklus hidup manusia. Pada dasarnya, sebagai elemen hasil evolusi yang berhasil membuat manusia bertahan hidup, emosi pasti ada di dalam setiap manusia, ia selalu terlibat dalam keputusan-keputusan manusia. Pertanyaannya, apakah emosi itu disadari dan dikembangkan atau diabaikan.
Saat bayi, manusia berhak atas pemenuhan rasa cinta, tanpa harus benar-benar mengerti apa itu cinta –yang bayi ketahui adalah saat lapar, ia bisa menetek pada ibunya, atau tidak. Memasuki usia kanak-kanak dan anak-anak, pengenalan atas perasaan yang dialami menjadi krusial. Paling tidak, anak bisa mengetahui mengapa dan bagaimana mereka merasa marah, sedih, senang, takut, malu, dan jijik. Usia remaja dan dewasa, perlu memiliki ketajaman terhadap turunan emosi dan campuran rasa. Turunan rasa maksudnya, apa persisnya perasaan sedih yang dirasakan? Apakah kecewa, apakah terluka, apakah kesepian. Sementaran campuran rasa adalah perasaan yang seringkali membuat kita bingung –seperti cemburu, di satu sisi kita merasakan cinta dan di sisi lain merasa terluka, atau merasa lega di saat yang bersamaan merasa bersedih karena kepergian anggota keluarga yang sudah lama sakit keras.
Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional. Menjangkau berarti mengulurkan tangan, mencari, dan menemukan; kegiatan ini seringkali terasa penuh daya.
Menariknya, ada begitu banyak pendekatan yang bisa dilakukan. Dua perjumpaan kemarin adalah contohnya. Seorang ibu dari remaja laki-laki dan seorang bapak dari remaja perempuan.
Sang ibu adalah pribadi yang hangat dan ekspresif, sementara putranya lebih terkesan pemikir, serius, dan tidak menampakkan sisi emosinya. Sang ibu, di waktu sempitnya karena pekerjaan, hampir selalu menceritakan pengalaman sehari-harinya dan menunjukkan ekspresi emosi yang dirasakan. Ia menjadi khawatir karena kurang mengetahui apa yang sedang dirasakan putranya. Di sisi lain, dengan kecerdasannya, sang anak mampu menangkap ekspresi emosi tersebut. Namun, karena minimnya pembiasaan untuk mengungkapkan perasaan, ia menjadi kurang kenal dengan apa yang sesungguhnya dirasakan, ia lebih sering bingung ketika ditanyakan apa yang sedang dirasakan. Untuk itu, diskusi dua arah perlu dibangun. Bermodalkan rasa percaya yang cukup di antara keduanya, latihan soal pengenalan emosi akan lebih mudah dijalani. Sang ibu merasa cukup optimis dan tergerak untuk mengenal anaknya, mengenali pengalaman yang dialami anak, dan membantunya untuk lebih dalam memaknai.
Sang ayah adalah pribadi yang taktis, berpegang penuh pada prinsip diri, dan suportif. Kedekatannya dengan sang putri sangat tertampilkan dalam relasi. Betapa sang ayah sangat mendengarkan keluhan dan kebutuhan anak, mau meluangkan waktu untuk membagikan pengalamannya dan kisah orang-orang terdekat sebagai pembelajaran, dan juga memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan perasaannya sendiri.
Setiap pencarian belum tentu membuahkan penemuan yang diharapkan. Namun, begitulah dinamika kehidupan. Kekayaan penemuan akan membantu khazanah diri. Pribadi yang sudah siap menjangkau dirinya akan lebih siap menjangkau orang lain. Kesiapan orang dewasa untuk menjangkau anak akan memampukan anak menjangkau dirinya.