Seorang ayah yang mendapati hasil psikotes anaknya menunjukkan hasil ‘di bawah rata-rata’, mengaku tercengang dan terpukul, sehingga memutuskan untuk mencari tes lain sebagai pembanding. Dalam keseharian anaknya, ia justru menampilkan kecerdasan rata-rata atas atau bahkan di atas rata-rata. Anaknya mampu mengerjakan soal hitungan, luwes dan senang bersosialisasi. Belakangan, baru diakui bahwa anaknya mengalami kesulitan dalam memahami soal-soal skolastik. Lebih lanjut, ada kekhawatiran sang ayah terkait kelanjutan perkuliahan anaknya. Bagaimana kalau nantinya ia tidak berkuliah di PTN? Pertaruhannya adalah soal kemampuan yang cukup objektif dan gengsi yang tidak mengenal kata cukup.

Mari kita bantu sang Ayah menguraikan kekhawatirannya.

Tentang hasil psikotes yang berbeda dengan hasil pengamatan orang tua, bukankah orang tua adalah orang yang paling mengetahui anaknya? Pernyataan yang beberapa kali dijadikan sebagai senjata oleh orang tua, kalau tidak sebagai tameng, untuk menjaga harga dirinya ketika menghadapi hasil atau kenyataan yang kurang sesuai dengan gambaran idealnya tentang anaknya.

Pada momen-momen tertentu, saya memutuskan untuk percaya pada hal tersebut dan mendukung kepercayaan dirinya. Karena, bukankah orang tua perlu percaya pada dirinya terlebih dahulu sebelum bisa memberikan penguatan pada anaknya? Terlebih pada anak remajanya, yang tingkat kegalauannya masih didasarkan pada kriteria seberapa pinter elo, seberapa gaul elo, dan seberapa keren elo. Tentu ia galau dan kecewa, tanpa perlu benar-benar memahami apa arti kecerdasan ‘di bawah rata-rata’ itu, karena buatnya sederhana: ia di bawah teman-teman lain dan hal itu gak keren.

Jika demikian adanya, maka, saatnya Ayah menyampaikan perasaannya, simpatinya, dan tentu saja apresiasi pada anaknya. Remaja perlu dilatih untuk mendiskusikan banyak hal, terlebih hal yang menyangkut dirinya. Menyampaikan perasaan secara terbuka adalah salah satu kunci untuk bisa masuk ke dunia mereka. Utarakan saja bahwa ayah sama terkejutnya dengan anak terhadap hasil tersebut. Baik ayah dan anak tidak perlu mencari pembenaran, melainkan membuka kesempatan mengenali diri lebih tajam. Hal-hal yang sudah baik dan hal yang masih kurang berkembang pada seseorang biasanya terpotret dalam hasil tes. Namun, kertas tetap saja objek tak bernyawa. Ada yang lebih melekat di pikiran remaja dibandingkan nilai hitam di atas putih, yaitu umpan balik yang dilandasi kasih sayang dari orang tua kepada anaknya. Berdasarkan pengamatan orang tua selama ini, bisa disampaikan apa yang menjadi kekuatan, apa yang paling dibanggakan, kemampuan apa yang baik dari anak, dan juga kekurangan dari anak.

Apabila Ayah terpikir untuk mencari opini kedua, kiranya bisa mencari psikolog yang terbuka, menyediakan layanan individual, dan mampu memberikan gambaran lebih rinci soal inteligensi –karena IQ tidak hanya sekadar angka, meskipun bukan penentu hidup matinya seseorang. Dengan pemahaman yang terbarukan soal inteligensi dan pengenalan yang lebih baik tentang kondisi anaknya, kiranya cukup menjadi amunisi yang kuat untuk mengesampingkan gengsi selama beberapa saat. Meskipun pada beberapa kasus, persoalan gengsi ini pada akhirnya berarti menghalalkan segala cara.

Oleh karena itu, setelah membantu Ayah menguraikan kekhawatirannya, mari kita doakan agar Ayah bisa lebih ringan saat mendukung keputusan yang dibuat oleh anaknya.