Pernyataan yang beberapa kali dijadikan sebagai senjata oleh orang tua, kalau tidak sebagai tameng, untuk menjaga harga dirinya ketika menghadapi hasil atau kenyataan yang kurang sesuai dengan gambaran idealnya tentang anaknya.
Memberi Waktu pada Kesedihan
Bagaimanapun kelekatan emosional perlu diindahkan. Artinya, kita mempunyai hak untuk berdiam sejenak, hilang dari hingar-bingar pikiran, dan menenggelamkan kepala sejenak.
Waktu
“Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”
Jujur
“Tulisan-tulisanmu adalah tulisan yang jujur, meski sebisa mungkin ditutup-tutupi.” Ia mengangguk dalam. Iya, itu aku, ujar sorot matanya.
Kemelut
“Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku tidak pulang. Lagipula, pulangku ini hanya ke rumah yang semu, yang di dalamnya aku tidak menemukan ayah, sementara ibu penuh dengan keluh.”
Remaja mencari Ikigai
Ia katakan bahwa jurusan kuliah yang akan dipilihnya tahun depan itu harus sesuai dengan Ikigai-nya, yakni merupakan bidang yang menjadi kekuatan dirinya, ia sukai, kelak dibayar karena keahliannya ini, dan dunia membutuhkan profesi ini.
Tidak Ajeg
Merasa tidak ajeg, tidak mantap, atau sebutan populernya tidak firm, sangat tidak enak. Lebih tidak enak kalau profesi yang dijalani merupakan figur yang diharapkan masyarakat sebagai orang yang berprinsip, tegas, berani, dan dijadikan acuan atau sumber ilmu.
Menjangkau
Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional.
Menyalin Koran
Setiap hari satu artikel. Bebas, mau pilih artikel panjang atau pendek. Kalau sudah selesai, tunjukkan pada Ayah, ya.
Ayah yang Tidak Siap
Tidak semua ayah memiliki karakter ayah yang ideal. Ada ayah-ayah yang tidak siap menjadi ayah, bapak, papa, papi, abah, baba, daddy, apapun sebutannya.
