Pandemi bisa membuat seseorang tidak mengenali dirinya, bahkan membenci dirinya. “Aku ingin menjadi diriku yang dulu.”

Sebagian remaja kita mengalami transformasi pada dua tahun ini, dari wajah mulus ke wajah berjerawat, dari suara imut ke suara melengking atau suara berat, dari kulit lembut ke kulit berambut, dan aroma tubuh menyengat, kemudian merasa dirinya aneh, tanpa menyadari bahwa semua teman sebayanya juga mengalami keanehan yang kurang lebih sama.

Ia merasa aneh, buruk, tidak cantik atau tidak tampan seperti para selebgram, entah artis atau bukan, tapi yang disoroti pertama adalah jumlah followers yang ribuan. Bahkan ada satu teman di sekolah barunya yang adalah selebgram. “Dia, kan, satu sekolah denganku. Harusnya aku juga bisa seperti dia. Aku ingin populer seperti dia.”

Ia merasa sedih, terombang-ambing adukan emosinya sendiri. Tepatnya, gelombang hormon pada otaknya yang tidak ia sadari sedemikian mengganggu perasaannya. 

Ia dan remaja lainnya tidak mempunyai pembanding yang setara, yang bisa setiap hari bertemu muka dan canda, menertawakan keanehan dan tidak merasa aneh sendiri. Pembanding yang mereka saksikan adalah mereka yang mengemas diri dalam filter kamera, memilihkan visual terbaik untuk ditampilkan, bahkan ada yang melakukan operasi plastik tanpa berkoar-koar, dan mereka yang tetap menyembunyikan sisi anehnya rapat-rapat di balik postingannya. Pembanding yang boleh dibilang tidak setara, dari segi usia dan masa.

Mungkin tidak hanya remaja, mungkin orang dewasa mengalami juga. Krisis identitas yang berlapis dampaknya. Terlebih karena pandemi, yang membatasi sekaligus membebaskan penjelajahan tak tentu arah.

Pada akhirnya semakin tenggelam dalam kamar, larut hingga subuh barulah tertidur, mungkin juga enggan makan dan merawat diri. Mempertanyakan hidupnya, menangisi dirinya.

Ia dan banyak remaja lainnya tidak menyadari butterfly transformation yang sedang terjadi. Ada fase yang isinya begitu banyak tekanan. Di dalam kepompong, tubuh ulat mengeras, menumbuhkan sayap, membesar, yang pada masanya akan tertekan dan menekan sehingga bisa menembus keluar.

Setiap remaja mengalami hal yang sama. Tidak persis sama, tetapi sama-sama berubah. Sama-sama merasa aneh, tidak jelas, tidak nyaman.

Kamu memang tidak bisa kembali seperti dirimu yang dahulu, tetapi kamu sedang menuju dirimu yang baru. Kamu hanya perlu melewati masa transformasi ini, dengan bersikap baik pada dirimu.