“Anakku ini bipolar.” “Anak saya gangguan pemusatan perhatian.” “Saya langsung masukkan dia ke Sekolah Luar Biasa (SLB) sejak SD.”

Bagi sebagian orang tua, diagnosis bahwa anaknya berkebutuhan khusus tidak selalu mudah diterima. Ada yang menolak kondisi tersebut dan memilih untuk ‘menyembunyikan’ anaknya di rumah, sehingga tidak perlu bertemu orang lain dan orang lain tidak perlu mengetahui kondisi anaknya. Sebagian dari yang menolak kondisi tersebut, memandangnya sebagai masalah yang harus diselesaikan sehingga berobat ke banyak tempat dan profesional untuk ‘menyembuhkan’ anaknya, dengan tetap meyakini bahwa diagnosis tersebut pasti salah, bahwa anaknya tidak berkebutuhan khusus.

Sebagian orang tua lainnya dengan penuh sadar menyatakan bahwa anaknya berkebutuhan khusus. Sikap orang tua yang semacam ini membawa kelegaan, karena tercermin adanya penerimaan terhadap kondisi anaknya. Ada keikhlasan dengan penuh sadar untuk membesarkan dan mendampingi anaknya.

Akan tetapi, ada pula sikap orang tua yang sedemikian teguh meyakini anaknya berkebutuhan khusus. Berpegang hanya pada anggapannya sendiri, mengambil tindakan sendiri, tanpa berkonsultasi dengan ahli. Atau, pernah berkonsultasi dan hanya menjadikannya sebagai label, “bahwa saya adalah orang tua dari anak berkebutuhan khusus atau anak dengan gangguan kepribadian.”

Apa yang bisa terjadi bila seorang anak salah didiagnosis? Stimulasi, pengobatan, dan penanganannya akan berbeda. Konsep diri sang anak juga bisa terpengaruh. Orang tua yang berkeras pada pandangannya sendiri, seperti pagar besi yang justru memenjarakan anaknya. Menganggap diagnosis seperti acuan kitab kehidupan anaknya, sehingga merasa tidak perlulah sang anak mendapat ini dan itu, karena ia tak akan bisa dan itu hanya merepotkan keluarga.

Diagnosis bukanlah harga mati atau label seumur hidup seseorang. Tidak selalu berlaku seperti itu. Diagnosis itu seperti kaca mata yang secara periodik perlu diperiksa kembali, apakah diagnosisnya masih sesuai atau tidak.

Bukankah setiap orang tua ingin bisa bahagia melihat anaknya mandiri? Daripada sekadar menelan diagnosis, mari memampukan kebisaan-kebisaan anak untuk menghadapi dunianya.