
Orang dewasa tumbuh dengan membawa pertanyaan mengapa begini dan mengapa begitu. Sebagian orang memilih untuk mencari jawabannya, sementara sebagiannya lagi memilih untuk membiarkan saja. Bagi keduanya, jalan yang kemudian ditempuh tidaklah mudah. Kelompok yang mencari akan resah dengan penemuannya, sementara kelompok yang membiarkan akan gamang dengan penerimaannya.
Seperti seorang wanita dewasa -pemikirannya jauh lebih matang daripada perawakannya- datang dengan pengetahuan yang melimpah-limpah soal hidup dari matanya. Seperti juga seorang pria usia peralihan antara remaja dan dewasa muda. Berpegang teguh pada nilai ‘hidup, hari ini’ membuatnya bergelantungan antara pilihan-pilihan dan keputusan tentang masa depannya. Keduanya mengambil pilihan hidup yang berbeda, tentu saja karena latar belakangnya pun berbeda. Namun, mereka pada akhirnya tiba di titik yang sama, yaitu pada titik terendahnya.
Pada keduanya, ditanyakanlah pertanyaan yang sama, “Kamu kenapa?” Pertanyaan ini barangkali memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, cukup ampuh untuk mendobrak pertahanan diri.
Setelah air mata membilas gengsinya, yang perempuan bercerita panjang lebar, tentang keberhasilannya, tentang kemungkinan-kemungkinan hidupnya, dan mencoba berpasrah meski belum bisa. Kenyataan bahwa ibunya tidak akan pernah bisa memahaminya.
Setelah meragukan sesaat, yang laki-laki bercerita tentang kebanggaan sekaligus kenakalan-kenakalan masa remajanya -berurusan dengan polisi, tawuran, ikut-ikut ilmu hitam-, mengabaikan masa sekolahnya yang dicap tidak pandai dalam urusan akademis, dan mencoba berpikir bahwa semua baik-baik saja meski belum bisa. Kenyataan bahwa lingkungan tidak memahami kesulitannya.
Berkawan dengan orang dewasa itu sederhana, meski bukan berarti mudah. Bagi setiap kita yang membawa pertanyaan ‘mengapa’ tentang hidup dan tentang banyak hal di luar diri kita, mari kita akui bahwa kita merindukan ditanyai tentang kondisi diri. Penambahan usia barangkali membawa konsekuensi untuk terus sibuk dengan dunia luar diri. Namun, pendewasaan berarti berhadapan dengan dunia dalam diri.
Pengungkapan diri dan melepaskan diri dari penilaian-penilaian bagaikan oase di kehidupan. Itulah mengapa, paling tidak, kita punya minimal satu orang yang bisa kita percaya. Termasuk, ketika kita memilih untuk hanya mempercayai diri sendiri, berarti kita perlu lebih adil dengan menanyakan diri “aku kenapa?” Di sisi lain, kita juga bisa memilih untuk menjadi oase bagi cerita orang lain. Tidak perlu muluk-muluk, kita bisa mulai dengan menumbuhkan ketulusan dalam mendengarkan.