Pernyataan yang beberapa kali dijadikan sebagai senjata oleh orang tua, kalau tidak sebagai tameng, untuk menjaga harga dirinya ketika menghadapi hasil atau kenyataan yang kurang sesuai dengan gambaran idealnya tentang anaknya.
Memberi Waktu pada Kesedihan
Bagaimanapun kelekatan emosional perlu diindahkan. Artinya, kita mempunyai hak untuk berdiam sejenak, hilang dari hingar-bingar pikiran, dan menenggelamkan kepala sejenak.
Waktu
“Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”
Jujur
“Tulisan-tulisanmu adalah tulisan yang jujur, meski sebisa mungkin ditutup-tutupi.” Ia mengangguk dalam. Iya, itu aku, ujar sorot matanya.
Kemelut
“Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku tidak pulang. Lagipula, pulangku ini hanya ke rumah yang semu, yang di dalamnya aku tidak menemukan ayah, sementara ibu penuh dengan keluh.”
Menjangkau
Pada praktiknya, manusia yang lebih dewasa dan punya lebih banyak pengetahuan soal emosi perlu menjangkau manusia-manusia muda yang masih bertumbuh. Tidak harus selalu orang tua, bisa juga guru, pembimbing, atau profesional.
Pesan Ayah kepada Anak
Buat Papi, kamu gak sekolah tinggi pun gak apa. Asal kamu bahagia dalam menjalani hidupmu, dan paling tidak, kamu punya satu skill yang bisa dipakai dalam keseharian kerjamu
Ragam Ayah
Para ayah ini tidak bisa dipilih dan setiap ayah ini sudah hadir di dalam keluarganya. Tidak bisa dibilang satu lebih baik daripada yang satu.
Seperti Kutu Lompat dalam Kotak Kecil
Pernahkah kita merasa tertohok pada tudingan Sang Guru yang mengatakan dengan lantang, “Chinmi, kutu dalam kotak itu adalah kamu!” Kami berdua pernah.
Tahan Banting
Usianya baru 5 tahun. Usia yang terlalu belia untuk mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, atau usia yang cukup untuk menghadapi kerasnya dunia?









