
Banyak kejutan kecil yang bisa dijumpai di ruang kecil ini. Salah satunya adalah ketika spirit “Kung Fu Boy”, yang bergejolak dalam diri psikolog dan juga diri perempuan muda usia 16 tahun, saling menyapa.
Pernahkah kita merasa diri sudah baik, dan terkecoh dengan menganggap diri paling baik? Kami berdua pernah.
Pernahkan kita merasa asing dengan dunia baru, yang kebesarannya membuat kita merasa kerdil? Kami berdua pernah.
Pernahkah kita membaca komik Kung Fu Boy bagian Chinmi dikalahkan telak oleh kesombongannya –bukan oleh Siefan, ketika latih tanding menggunakan tongkat? Pernahkah kita membacanya dengan seksama ketika Sang Guru yang membawa dua ekor kutu, seekor di dalam kotak dan seekor lainnya diambil dari monyet Goku, kemudian diperlihatkan perbedaan daya lompatnya? Pernahkah kita merasa tertohok pada tudingan Sang Guru yang mengatakan dengan lantang, “Chinmi, kutu dalam kotak itu adalah kamu!” Kami berdua pernah.
Kemampuan, buah prestasi yang baik, perasaan berbangga, ketiganya turut membangun persepsi atas dunia kami –dunia kami yang masih sempit. Nyatanya, ketiganya tanpa disadari membentuk kotak-kotak kasat mata. Di antara teman seangkatannya di SD dan SMP, dialah yang nomor satu. Di mata keluarganya, dialah anak yang layak mendapat apresiasi. Segala keberlimpahan itu membuat diri merasa paling baik –perasaan yang manusiawi. Hingga memasuki jenjang SMA, di saat teman-teman lain melesat di kemampuan organisasi, ambisius dengan perolehan nilai, dan punya strategi pengelolaan waktu yang baik, ia merasa paling payah –perasaan yang juga manusiawi.
Seperti kutu lompat di dalam kotak kecil, lompatan kami setinggi apapun akan membentur langit-langit “merasa hebat” itu. Sementara teman-teman lain adalah kutu yang berlompatan di alam bebas. Kamilah, jago kandang yang gegar ketika menjumpai peristiwa yang lebih besar. Membuka kotak semu yang membatasi perkembangan tentu menjadi tantangan tersendiri.
Spirit Kung Fu Boy yang menyatukan kami membuat proses diskusi berjalan dengan menyenangkan. Berpuas diri tentulah baik, sebagaimana merasa haus. Menyeimbangkan di antara keduanya adalah pekerjaan sehari-hari yang perlu dilakukan dengan penuh kesadaran. Penemuan diri secara faktual dan lebih objektif dapat membantu kita dalam menilai diri secara lebih akurat.