Ini bukan pasta biasa, ini pasta kegembiraan. Bukan pesta, tetapi pasta istimewa. Istimewa karena menjadi awal baru terbangunnya relasi yang hangat antara ibu dengan anak remajanya.
Cerita Perjumpaan
Banyak kisah kami jumpai. Kisah-kisah yang menggetarkan hati dan meletupkan pikiran. Kisah perjumpaan antarpribadi dan intrapribadi.
Apakah ada kisah yang beresonansi dengan Anda? Mari ngobrol, tuangkan pendapat dan komentar, atau isi survey singkat kami.
Masalah vs Kondisi
Sesungguhnya, ada perbedaan mendasar antara masalah dan kondisi. Ketika harapan tidak sejalan dengan kenyataan, di situlah muncul masalah, bukan?
Menjadi Temannya
Ada keluarga yang nyatanya tidak bisa berkomunikasi. Entah tidak bisa. Atau tidak mau. Mereka saling berdiam.
Guru yang Akan Dikenang Sepanjang Masa
“Sebenarnya, ya, kami belajar soal psikologi juga saat sekolah guru. Tapi, praktik di lapangan itu, penerapan ilmu psikologinya, hanya bisa diterapkan ketika kita benar-benar mengenal si anak.”
Berkaca pada Waktu
Seorang pemuda memutuskan untuk mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan sekolahnya ke perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang tidak umum, dan menjadi tampak mencolok jika dibandingkan dengan arus utama remaja yang “sewajarnya” langsung melanjutkan perkuliahan selepas lulus SMA.
Bukankah Orang Tua adalah Orang yang Paling Mengetahui Anaknya?
Pernyataan yang beberapa kali dijadikan sebagai senjata oleh orang tua, kalau tidak sebagai tameng, untuk menjaga harga dirinya ketika menghadapi hasil atau kenyataan yang kurang sesuai dengan gambaran idealnya tentang anaknya.
Memberi Waktu pada Kesedihan
Bagaimanapun kelekatan emosional perlu diindahkan. Artinya, kita mempunyai hak untuk berdiam sejenak, hilang dari hingar-bingar pikiran, dan menenggelamkan kepala sejenak.
Waktu
“Barangkali karena keberlimpahan yang saya punya adalah waktu. Jadi ketika mendapat kejadian ini, melihat peristiwa itu, saya cukup punya beberapa waktu untuk mendengar sebelum berespon.”
Jujur
“Tulisan-tulisanmu adalah tulisan yang jujur, meski sebisa mungkin ditutup-tutupi.” Ia mengangguk dalam. Iya, itu aku, ujar sorot matanya.
Kemelut
“Seharusnya aku tidak di sini. Seharusnya aku tidak pulang. Lagipula, pulangku ini hanya ke rumah yang semu, yang di dalamnya aku tidak menemukan ayah, sementara ibu penuh dengan keluh.”









