Tergantung sama apa yang kita pikirin, apa yang kita mauin dan yang gak kita mauin, juga dengan apa yang kita persiapin di antaranya. Waktu subjektif itu ada di dalam kepala kita.
Resolusi, Urgensi, dan Intensi
Kita kembali bekerja, kembali ke dalam rutinitas, kembali berjalan dalam sistem. Sambil melakukan apa yang perlu dilakukan, tak jarang kita juga memikirkan apa yang ingin dilakukan. Karena kenyataannya, kita bergelut dengan realita yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Agar Percaya
Ia dilanda ketakutan akan hal-hal buruk yang mungkin terjadi dalam hubungan pacaran itu. Hal-hal buruk yang mungkin akan membebani perasaan bersalah dan rasa tidak amannya, yang sudah ia bawa sejak lama.
Estafet Pengasuhan
Katanya, kalau dari generasi terdahulu, kita sering mendapatkan kalimat-kalimat yang menjatuhkan, maka tugas kita adalah memutus kebiasaan tersebut dan menggantinya dengan kalimat yang membangun.
Tips Berteman dari Seorang yang Sulit Berteman
Dengan pertemananku yang sekarang, pelan-pelan aku belajar bahwa ‘Ketika aku gak sempurna, it’s fine. Ada kalanya aku tidak diterima, ada kalanya juga aku yang gak menerima mereka.’
Kita Tidak Terlalu Menginginkan Penghakiman
Di dunia yang sudah cukup dipenuhi oleh rasa cemas, atau insecurity – istilah populer yang marak diucapkan di muda-mudi zaman sekarang – kita bisa hadir sebagai pribadi yang penuh sumber daya atau resourceful.
Pertanyaan yang Dirindukan
Pada keduanya, ditanyakanlah pertanyaan yang sama, “Kamu kenapa?” Pertanyaan ini barangkali memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, cukup ampuh untuk mendobrak pertahanan diri.
Membantu Melepas Tamengnya
Seorang remaja dengan kecenderungan disleksia datang dengan membawa tameng yang bertuliskan “Aku ‘kan anak pintar!”
Guru yang Akan Dikenang Sepanjang Masa
“Sebenarnya, ya, kami belajar soal psikologi juga saat sekolah guru. Tapi, praktik di lapangan itu, penerapan ilmu psikologinya, hanya bisa diterapkan ketika kita benar-benar mengenal si anak.”
Berkaca pada Waktu
Seorang pemuda memutuskan untuk mengambil jeda sebelum melanjutkan perjalanan sekolahnya ke perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang tidak umum, dan menjadi tampak mencolok jika dibandingkan dengan arus utama remaja yang “sewajarnya” langsung melanjutkan perkuliahan selepas lulus SMA.









