
“Gimana sekolah? Paling suka pelajaran apa? Apa pelajaran yang kamu rasa sulit?”
“Hobi kamu apa?”
“Kamu paling suka mainan apa?”
Apakah deretan pertanyaan itu merupakan deretan pertanyaan yang dikantongi ketika pertama kali berjumpa dengan seorang anak? Sementara sang anak diam saja, pikiran dewasa kita pasti memutar dan mencari-cari pertanyaan ketika hendak melakukan pendekatan dengan anak. Tidak jarang kita pun mati gaya!
Banyak teori dan tips tentang bagaimana melakukan pendekatan di awal, yang dilontarkan baik oleh para ahli maupun sesama orang awam. Ya, namanya juga teori, kadang di lapangan tidak kejadian. Ya, namanya juga tips, kecocokannya bergantung juga pada banyak faktor.
Bagaimana jika kita lupakan sejenak deretan daftar pertanyaan pendekatan itu? Bagaimana kalau kita buang dulu, atau kita coret saja dulu. Bagaimana kalau kita melangkah keluar dulu dari pikiran kita sendiri tentang mereka? Bagaimana kalau kita mulai melihat anak yang ada di hadapan kita, lalu mulai menjejak dari realita yang ada?
Ada anak perempuan yang sedang duduk diam menunggu sesi konsultasi kakaknya, kita tanyakan, “Biasanya, kalau kamu menunggu, kamu ngapain?” Megang hape, jawabnya. “Oh, apa yang kamu lakukan dengan hape?” Aku aneh, sih, aku sukanya lihat-lihat galeri foto. “Wah, kok, aneh? Gimana tuh maksudnya?” Iya, aku suka aja lihat foto-foto lama dan inget-inget. “Oh, ada banyak banget, dong, foto-foto lama itu, ya.” Lalu ia mencerocos bercerita.
Ada anak laki-laki yang sedang duduk diam dengan pakaian kaos dan celana bola, kita tanya, “Wah, baju dan celananya tim X ya. Kamu suka sepak bola?” Iya, jawabnya ceria. “Apa, tuh, yang paling kamu suka dari sepak bola?” Hm, waktu mainnya. Aku ‘kan pemain sepak bola di sekolah. Jago aku. “Oh, wah? Ceritain doong, gimana, kok, kamu bisa sesuka itu sama bola dan jago mainnya?” Lalu ia mencerocos bercerita.
Ada anak laki-laki yang sedang duduk diam dengan pakaian bergambar mobil taft dan kebetulan tadi ia datang ke sini dengan mobil taft. Kita bisa tanyakan, “Wah, bajunya taft, ya. Tadi naik mobil taft juga ke sini, ya. Siapa, nih, yang suka taft?” Ayah, jawabnya. “Ooo, berarti bajunya dikasih dong, ya, itu?” Iya. “Kalau baju yang milih sendiri, kamu akan pilih gambar apa?” Lalu ia mencerocos bercerita.
Pada anak lain dengan penampilan yang berbeda, pada anak lain di situasi yang berbeda, menjejaklah pada realita. Ketajaman pengamatan memang penting, dengan catatan kita sedang mengamati subjek di luar diri kita, bukan pikiran kita. Maka, keluarlah dari pikiran sendiri, keluar sejenak dari asumsi dan penilaian-penilaian, dan kenalilah mereka. Betul bahwa kita memiliki tujuan menggali sebanyak-banyaknya data dan pengetahuan tentang seorang anak. Namun, pendekatan yang didasari intensi ‘sungguh-sungguh mau mengenal pribadi’ akan berjalan dengan lebih mengalir dan lebih apa adanya, serta membuahkan pemahaman mendalam tentang pribadi anak (bukan sebatas pengetahuan dasar).
Bukankah kedewasaan pikir kita ditandai dengan tepat atau tidaknya kita membuat penilaian dan kematangan kita untuk mengendalikan penilaian-penilaian tersebut?